KEADAAN KAMPUNG
Ini merupakan kondisi perkampungan yang terdapat di daerah Baduy (luar). Kampung ini bernama Kampung Cicakal. Kampung Cicakal merupakan salah satu kampung yang terdapat di baduy (luar), yang dimana baduy (luar) terdiri dari 56 kampung. Perjalanan yang harus ditempuh menghabiskan waktu sekitar 30-45 menit (dari kampung terdekat). Dapat dilihat dari gambar bahwa kampung ini seperti tidak berpenduduk, namun hal ini dikarenakan oleh pengambilan gambar dilakukan di bawah jam 12:00, dimana hampir semua laki-laki sedang pergi berladang.
*************************************************************************************
KEUNIKAN RUMAH
Dapat dilihat bahwa rumah-rumah di daerah baduy tidak menggunakan genting tanah liat seperti banyaknya perkampungan pada umumnya. Dengan menggunakan atap yang berupa daun-daunan, membuat kondisi di dalam rumah masyarakat baduy (luar maupun dalam) menjadi sangat sejuk dan nyaman. Dapat dipastikan bahwa ketika hujan turun, atap ini juga tidak dapat ditembus (tidak bocor). Dengan demikian kehidupan berasaskan kesederhanaan dapat diterapkan pada masyarakat baduy.

*************************************************************************************
KERAJINAN TANGAN
Seperti yang telah dijelaskan, bertenun merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat baduy (luar maupun dalam). Namun bertenun bukanlah mata pencaharian utama, berladang, yang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki, merupakan mata pencaharian utama. Bertenun biasa dilakukan oleh wanita sembari mengisi waktu luang mereka dan juga dapat dikerjakan sambil menjaga rumah dan anak. Bertenun biasanya diajarkan kepada anak perempuan saat mereka berusia 10 tahun. Pada umumnya bertenun akan diajarkan oleh Ibu kepada anak perempuannya. Jika diperhatikan, warna yang mendominasi kain tenun masyarakat baduy (luar maupun dalam) adalah biru, hitam, dan putih. Hal ini merupakan sebuah tradisi yang telah mendarah daging, sehingga asal-usulnya sulit untuk ditelusuri.
*************************************************************************************
LUMBUNG PADI
Bangunan berikut ini merupkan lumbung yang digunakan sebagai tempat menyimpan padi. Lumbung-lumbung ini berbentuk seperti rumah panggung, dan jika diperhaikan dengan seksama, tiang-tiang penyangga lumbung ini tidak secara langsung menyentuh tanah. Hal ini dikarenakan apabila secara langsung menyentuh tanah, maka tiang-tiang penyangga ini dapat dengan mudah menjadi rapuh (karena rayap). Metode pembangunan ini tidak hanya digunakan pada lumbung saja, melainkan juga pada rumah tinggal masyarakat baduy. Dengan peletakan batu pada dasar tiang, membuat tiang lebih aman dari rayap.
Apabila diperhatikan dengan seksama lagi, letak lumbung-lumbung ini berjauhan dari rumah tinggal masyarakat baduy. Hal ini disebabkan oleh pengaruh dari faktor pengamanan. Apabila terjadi kebakaran pada rumah tinggal, maka lumbung-lumbung ini akan terselamatka (mengingat jaraknya yang berjauhan dari rumah tinggal). Hal yang unik dari lumbung-lumbung ini adalah, dimana beras yang berada di dalamnya merupakan beras-beras yang telah disimpan sejak lama. Bertahanya jumlah beras ini dikarenakan oleh masyarakat baduy yang tidak memperjualbelikan hasil ladang mereka kepada orang lain. Oleh karena itu, hasil panen mereka disimpan dalam lumbung-lumbung ini. Jadi dapat dipastikan bahwa tiap lumbung menyimpan beras dengan jumlah yang sangat banyak, ini juga dikarenakan oleh tiap warga/keluarga (pada masyarakat baduy luar maupun dalam) memiliki lumbungnya masing-masing.
*************************************************************************************
PERBEDAAN MENDASAR ANTARA WARGA BADUY LUAR DAN DALAM
Dengan perbedaan yang sangat mendasar, kita dapat membedakan warga baduy luar dengan dalam. Perbedaan ini semata-mata terletak pada cara mereka mengenakan pakaian. Dari gambar bisa kita lihat bahwa gambar diatas menunjukan penduduk baduy luar, sedangkan gambar dibawah menunjukan penduduk baduy dalam. Dengan melihat cara berpakaian mereka, kita dapat membedakan antara keduanya. Masyarakat baduy luar dapat mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, dengan jahitan mesin dan tidak mengenakan ikat kepala. Selain itu, masyarakat baduy luar juga dapat mengenakan pakaian dengan WARNA APAPUN yang mereka inginkan. Sedangkan masyarakat baduy dalam diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang hanya dijahit oleh tangan. Selain itu, mereka juga mengenakan ikat kepala kemanapun mereka pergi. Namun perbedaan yang paling mencolok adalah dari warna pakaian yang dikenakan. Masyarakat baduy dalam hanya diijinkan mengenakan pakaian berwarna Hitam atau Putih, juga hanya mengenakan kain yang dililit sebagi celana mereka. Pemilihan warna HITAM dan PUTIH ini dipercaya berpegang pada nilai keseimbangan alam. Dimana alam selalu dibagi menjadi dua bagian, baik dan jahat, siang dan malam. Pembagian warna dalam mengenakan pakaian ini berpegang teguh pada asas tersebut. Sehingga dengan usaha mereka, orang baduy dalam berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti keseimbangan alam.
*************************************************************************************
KONDISI JALAN SETAPAK
Dikarenakan berada ditempat pegunungan, maka sudah dapat dipastikan bahwa kondisi jalan akan menanjak dan berbatu. Jelas bahwa batu akan sangat membantu dalam hal menanjak perjalanan yang tak kunjung turun. Namun perlu diingat bahwa curah hujan cukup tinggi di daerah pengunungan. Jadi dapat dipastikan bahwa jalanan akan tergenang lumpur ketika/setelah hujan turun. Alas kaki yang baik akan dapat membantu dalam kondisi ini, perlu diperhatikan bahwa sendal jepit tidak akan membantu sama sekali. Namun sendal gunug yang kuat akan dapat membawa anda sampai tujuan dengan sedikit keamanan ekstra dibandingkan dengan sendal jepit.
Di bawah ini merupakan kondisi jalan di baduy (dalam), dari kampung Cicakal menuju Kampung Gajebo. Perlu di perhatikan bahwa jembatan ini cukup rapuh, sehingga berjalan dengan sangat HATI-HATI DAN PERLAHAN perlu dilakukan.
*************************************************************************************
FIN




















0 comments:
Post a Comment