Dia melihat siluet manusia yang sedang berjalan bersamanya. Orang itu tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang tidak dimengertinya, dengan intonasi suara yang tinggi, keluarlah kata-kata keras yang masih tidak dapat dimengertinya. Iapun memohon, berusaha menenangkan siluet tadi. Namun sang sosok lain tersebut tidak menggubrisnya, marah dan kecewa hingga terlihat kebencian terpancar dari kata-katanya. Dengan samar-samar, ia dapat melihat kondisi di sekelilingnya, namun tidak ingat bagaimana mereka dapat beridiri ditengah semak semak dengan lampu jalan yang cukup jauh menjadi penerangnya. Siluet itu masih saja marah menggunakan kata-kata yang tidak dapat dimengertinya, tiap kali ia mencoba menyentuh siluet itu, tangannya yang kasar terus saja menepis. Ia pun menjadi putus asa mencoba untuk menenangkan siluet itu, dan akhirnya amarah menguasai dirinya. Tak lama kemudaian, makian demi makian terdengar diantara dua pemuda itu. Siluet yang tidak menahan rasa marahnya itupun mengambil tindakan lain, ia memukul wajah lelaki tersebut dengan keras sehingga ia jatuh terjerembap kebelakang. Dengan keadaan gemetar ketakutan lelaki itu berdiri dan berusaha menghampiri untuk membalas perbuatan siluet itu, namun siluet itu memiliki postur badan yang lebih besar dibandingkan dengan dirinya. Sekali lagi siluet itupun memuikulnya dengan lebih keras sehingga lelaki itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kemudian terdengar suara berdegum seiring dengan kepala laki-laki itu menyentuh tanah. Panic, dan ketakutan meliputi suara siluet itu, dengan cepat ia mencoba menolong lelaki itu, namun darah berkilat sudah keluar dari kepala laki-laki itu.
Semua tampak samar, suara-suara pun sudah terdengar jelas, namun bukan suara siluet tersebut yang terdengar melainkan suara deru kendaraan bermotor yang tanpa henti lalu lalang didekatnya. Dengan perlahan lelaki itu membuka mata, belum sepenuhnya kelopak itu terbuka, ia kembali menutup matanya. Sekali lagi semuanya tampak samar-samar, termasuk deru suara kendaraan bermotor itu. Semuanya menjadi gelap, melebihi kegelapan dalam gedung bioskop tanpa pencahayaan. Kejadiaan yang sama pun terulang lagi, namun kali ini semuanya tampak lebih samar dan hamper tidak dapat dilihat dengan jelas. Kata-kata yang mengalir makin tidak dipahaminya dan tiap gerakan makin melambat dan berputar tanpa arah yang jelas, siluet itu tampak seperti bayangan hitam yang tidak berbentuk. Semuanya membuat laki-laki itu menjadi pusing dan merasa sakit sekali pada bagian belakang kepalanya. Sekali lagi, deru suara kendaraan bemotor memenuhi kepalanya dan semakin terdenganr keras seolah meraka ada disebelahnya langsung. Ia pun mencoba membuka matanya dengan perlahan dan menyesuaikannya dengan cahaya yang menusuk pupil matanya. Ia menggerakan tangannya untuk menghalaukan sinar itu dari matanya yang berwarna coklat, namun tangannya kembali terkulai lemas tak berdaya ketika ia berusaha untuk menggerakannya. Kali ini ia mencoba menggerakan kepalanya, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menyerangnya seakan rasa sakit itu ada disekujur tubuhnya yang terbaring disebuah tempat yang lembab dan keras itu. Sekali lagi, semuanya kembali menjadi samar-samar dan makin lama semakin tidak jelas, suara-suara itu pun perlahan menghilang dan digantikan dengan keheningan yang luar biasa.
Kejadian itu pun kembali terulang dikepalanya, dengan detail yang semakin tidak jelas dan tidak sama seperti sebelumnya. Siluet laki-laki yang sebelumnya terlihat telah berubah bentuk, kali ini bentuknya menyerupai grim ripper, sosok dewa pencabut nyawa. Dengan marah yang luar biasa dia merasakan kebencian dari suaranya dan akhirnya mengayunkan pedang berbentuk sabit itu kearahnya laki-laki itu. Setelah melakukan hal tersebut, sang Grim Ripper pun menghilang seperti debu yang ditiup oleh angin. Pemandangan sekelilingnya pun berganti dengan sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang terlihat melompat-lompat dalam waktu yang bersamaan, semuanya dilakukan sesuai dengan irama musik yang bising yang ia rasa pernah mendengarnya, namun suara musik itu pun tidak dapat dimengerti olehnya, namun tetap saja ia merasa pernah mendengarnya disuatu tempat tempat yang sama seperti saat ini, yang membuat hatinya gembira dan seakan melompat keluar. Namun tempat ini perlahan menjadi semakin terang, seakan ia melihat secara langsung tanpa perlindungan kacamata kearah matahari. Makin lama tempat ini semakin terang, dan suara musik pun perlahan menghilang dan digantikan dengan suara berat seorang laki-laki, suara yang tidak pernah dikenalnya. Suara itu mengatakan sesuatu yang tidak dimengertinya, sesuatu yang berbunyi seperti sebuah pertanyaan. Matahari itupun bergerak ke kanan dan ke kiri seirama. Dengan perlahan ia mencoba membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang bergerak-gerak dihadapannya. Dengan masih menyesuaikan cahaya tadi, ia mendengar bahwa suara berat itu berteriak, seakan memanggil seseorang, dan ternyata memang benar ia memanggil seseorang, dua atau mungkin lebih, kareana ia mendengar banyak lakah kaki yang terburu-buru yang berlari ketempatnya berbaring sekarang. Berusaha untuk melirik keadaan sekelilingnya, namun ia hanya melihat sebuah siluet orang dengan cahaya terang ditangannya dan kemudian beberapa siluet bermunculan disekitarnya. Terengah-engah seakan mereka baru saja berlari mengelilingi sebuah stadion. Mereka berjumlah lima orang dan dengan segera siluet dengan cahaya ditanganya meminta mereka sesuatu, dan mereka pun berdiri pada tempat yang yang berlainan, dua berada didikat kaki pemuda itu, dua orang lainnya berada di sebelah kiri dan kanannya, dan satu orang berada di dekat kepalanya. Suara sosok siluet dengan cahaya pun mulia terdengar dapat dimengerti, namun itu pun terdengar dengan sangat samar dan hamper tidak terdengar. Tiba-tiba pada saat bersamaan laki-laki itu merasakan bahwa tubuhnya terangkat, kakinya, tangganyanya yang lagsung berubah posisi kearah pundak dan punggungnya dan kepalanya.
Namun siluet yang berada di kepala tanpa sengaja menyentuh luka yang ada di belakang kepala laki-laki itu, laki-laki itupun mengeluarkan sebuah erangan kesakitan yang luar biasa. Siluet dengan cahaya itu mengatakan sesuatu yang terdengar seperti perhatian, namun laki-laki itu tidak mengerti apa yang diakatakannya karena rasa sakit itu kembali menjalar pada tubuhnya seperti ribuan pisau yang menyayat tiap kulit yang menempel pada tubuhnya. Lelaki itu merasakan bahwa tubuhnya sudah terangkat dari tanah dan mulai bergerak. Tubuhnya bergerak dengan perlahan, namun ia melihat sekelilingnya bergerak dengan cepat, sehingga ia merasa tidak pasti kemana siluet siluet ini membawanya. Ia pun sudah dapat menyesuaikan matanya dengan keadaaan, namun kegelapan masih saja meliputinya, namun dari kejauhan ia melihat gedung-gedung pencakar langit bergerak menjauhinya. Tidak lama kemudian ia melihat secercah cahaya dari kejauhan, yang kemudian disusul dengan sosok sebuah tumpukan papan dan kardus yang berbentuk menyerupai rumah, dengan yakin ia berpikir bahwa kesitulah dirinya akan dibawa, dan ternyata keyakinannya menjadi sebuah kenyataan. Dengan perlahan kelima sosok siluet itu membaringkannya di atas sebuah kardus yang lebar, dengan pencahayaan sebuah lampu pijar, ia memandang sekelilingnya tanpa mengerakan kepalanya. Secara perlahan kelima siluet itu pun mulai terlihat dengan jelas. Seorang laki-laki yang diyakininya berumur 40 tahunan adalah sosok siluet yang memegang cahaya tadi, dan ternyata ia memegang sebuah senter. Lelaki yang hampir berusia paruh baya itu mengenakan kaus kumal yang mungkin tadinya berwarna putih, namun sekarang sudah tidak jelas warnanya, antara coklat muda atau krem, ia berada disebelah kirinya, sedangkan disebelah kanannya ada seorang pemuda berumur lebih dari 25 tahun. Ia juga menggunakan kaus yang kumal, berwarna merah gelap, banyak sekali bekas-bekas oli yang terpapar disana, wajahnyanya pun terlihat kusam dan menunjukan keletihan yang luar biasa.
Laki-laki yang tebaring itu mulai menyesuaikan tubuhnya dengan keadaan sekitarnya, ia mulai mengerakan jemari tangannya sebelum mencoba mengerakan tangannya. Melihat jemarinya bergerak, sosok ketiga yang berada di sebelah kaki kanannya terpekik senang, ia mengucapkan sesuatu yang membuat semua sosok tersebut menatap kearah tangan kanan laki-laki yang terbaring itu. Ia kembali mengatakan sesuatu yang sudah dapat laki-laki itu dengar, “Mas, mas bisa dengar?”, tanyanya kepada lelaki yang terbaring itu. Suara perempuan, batin si lelaki itu karena ia tidak dapat melihatnya dengan keadaan terbaring. Dengan sengenap tenaga, lelaki itu itu mencoba menjwab, namun eranganlah yang keluar dari mulutnya, “errgh”. “Alhamdulilah”, katanya lagi “Mas sudah sadar, tadi saya sempat takut waktu mengangkat tubuh mas.” Lalu sosok yang berada disebelah kaki kirinya melakukan sesuatu, ia melepaskan sepatu yang dipakai lelaki terbaring itu. Segera dengan cepat, aroma tidak sedap dapat dicium oleh lelaki terbring itu, ia pun berfikir berapa lama sepatu itu tidak dilepasnya. Lalu ia berfikir lagi, sudah berapa lama ia berbaring ditempatnya tadi. Apakah ia pingsan, pikirnya dalam hati, berapa lama sudah aku pingsan, pikirnya lagi. Dan pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan dalam benaknya. Lalu ia berusaha untuk mengerakan tangannya sehingga dapat menahan tubuhnya untuk duduk. Namun tangannya terasa sangat lemas, sehingga sosok kelima yang berada di dekat kepalanya berkata, “Mas, jangan banyak bergerak dulu. Istirahat dulu saja.” Ia pun melirik keatas sambil melihat siapakah sosok kelima ini. Ternyata ia adala seorang laki-laki yang kira-kira berumur 20 sampai 25 tahun. Ia mengenakan kaus berlengan panjang berwarna abu-abu yang sudah sangat longgar dbadannya. Laki-laki ini terlihat cemas ketika melihat lelaki terbaring itu berusah untuk bergerak. Namun lelaki yang terbaring itu berusaha untuk berbicara dengan sekuat tenaga, namun kata-kata yang tidak jelas dan berantakanlah yang keluar dari mulutnya, “Ssss…….a aaa…a…u ddddu……uuk…” sahutnya dengan terbata-bata. Namun lelaki dengan senter tadi bertanya, “Ada apa mas?”, lelaki yang terbaring pun berusaha dengan kekuataan yang dimilikinya, “Saaaaa…………a maa…u dud………ukkk” Jawabnya. Laki-laki yang berada didekat kepalanya pun mengatakan “Dia ingin duduk” sahutnya kepada semua orang yang masih memperhatikan lelaki yang terbari tersebut. Laki-laki yang ada di sebelah kanannya pun bertanya, “Mas sudah cukup kuat untuk duduk?”, tanyanya lagi, “Tidak lebih baik mas berbaring saja dulu?”. Namun lelaki yang terbaring itu telah menguatkan tekadnya, ia ingin duduk supaya dapat melihat semua orang yang telah menggotongnya. Ia pun menjawab, “Bisa.” Katanya melirik ke kiri, melihat laki-laki yang hamper paruh baya. Laki-laki yang hampirparuh baya itu pun mengerti, dan meminta mereka semua untuk membantunya mendudukan lelaki yang terbaring itu.
Namun ketika mereka mencoba untuk memindahkannya ketembok, pandangan lelaki yang terbaring itu kembali kabur, semuanya tampak samar-samar sekali lagi. Kepalanya merasakan rasa sakit yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Jauh lebih sakit dibandingkan ketika lukanya tersentuh oleh sosok kelima tadi. Semuanya menjadi lebih samar, dan mendadak semuanya tampak hitam. Hitam yang awalnya hanya sedikit, semakin lama semakin besar. Kegelapan hamper meliputinya, dan ia merasakan bahwa kepalanya semakin ringan dan akhirnya jatuh kerkulai seiring dengan kegelapan yang telah memakan seluruh pandangannya. Suara-suara orang disebelahnya pun tampak lebih berat dari yang sebenarnya, dan kemudian suara itu semakain berat sehingga tidak dapat dimengerti kembali oleh lelaki itu.


1 comments:
Mampir bentaran... Hehe
Post a Comment