Ketika matahari baru saja menunjukan muka sinisnya, seorang pemuda pergi menyusuri hiruk pikuk Jakarta yang tak kunjung padam. Dalam perjalanannya dia bertanya dalam hari, "What have I done for almost twenty-two years of my life?". Dalam sesaknya jalan ibukota di pagi hari, pemuda ini mencoba untuk menikmati sinar matahari yang mulai menghangatkan punggung lebarnya. Tidak berhenti untuk menikmati kepulan asap kota ini, ia pun tetap berjalan dengan bebek merahnya dan mencoba menikmati tiap hirup asap yang masuk dalam paru-parunya. Perjalanannya yang singkat, membuatnya berpikir akan pertanyaan sebelumnya. Ia pun melihat kebelakang dengan berpikir, "There's lots of things happened to me for the past two years".
Dengan tetap mencoba mengingat kehidupan dewasa awalnya, ia tetap berjalan dengan masih mencoba menikmati barisan semut yang menghadangnya. Semakin keras ia berpikir, ia semakin sadar bahwa belum ada hal yang dapat dibanggakan yang telah dilakukannya. Lalu ia berpikir, "Well, everything happens for a reason. So there isn't a strong reason for me to did something that I could possibly proud of". Dan tidak membutuhkan waktu lama, pikirannya teralih dengan perputaran dua jarum yang ada ditangannya.
Lalu sampailah ia pada sebuah bangunan tua berlantai 3, kegiatannya dalam bangunan itu pun membuatnya melupakan pertanyaannya.
Ketika matahari telah mencapai singgasana puncaknya, pergilah ia untuk mencari sesuap nasi dan seonggok berlian. Pemuda itu pun berlari dalam sepinya lalu lintas ibukota. Ketika ia melihat sebuah tempat yang berisi ribuan kendaraaan besar, bertanyalah ia dalam hati "What have I done for almost twenty-two years of my life?". Dengan menerobos rombongan yang mengganggunya, ia pun melihat kebelakang, "There's lots of things happened to me for the past two years". Namun kali ini, sang pemuda mampu mengingat kejadian tahun lalu. Sambil berjalan lambat, Ia pun mengucap syukur pada Sang Kuasa atas pelajaran yang ia dapat sebelum umurnya menjadi 21 tahun. Dengan segenap keteguhan hati dan fokus yang berlebihan, berpikirlah dia akan hidupnya selama dua tahun belakangan.
Pemuda ini pun mengingat akan sebuah perkataan akan seorang teman baiknya ketika umurnya masih belia,
Pemuda : "Well, what it's feels like to be twenties?"
A Good Friend : "Hmm, let me tell you something. Your twenties are ages where you are more concern about life, your life. It's also a time where you feel more responsible for everything you've done, and you will do. And as an added bonus, you'll become wiser along the way."
Lalu ia pun ingat akan pikirannya ketika itu, 'Will I be that kind of person?" dan ia pun mencoba untuk berpikir sedikit maju dari memory lamanya itu dan membuat sebuah pembenaran, "Hell yeah, i feel more concern about my life right now. Where to go to work, what will I do after I graduate, and other similar stuff. I also think that I getting more responsible of (tiny) parts of my life. And as I growing wiser? Nah, IDTS!"
Sekali lagi ia pun berpikir, "There's lots of things happened to me for the past two years". Semakin ia menyadari akan pernyataan ini, Ia pun semakin dekat dengan tambang emas tempat ia mengadu nasib. Disepanjang sisa jalannya, berpikirlah ia akan, "Everthing happened for a reason" lalu, yakinlah ia bahwa ia telah menjadi (sangat sedikit) lebih dewasa dari ketika ia masih belia. Sesampainya ia ditambang emasnya, Ia pun berhenti sejenak untuk berpikir, "There's lots of things happened to me for the past two years" namun kali ini, Ia tidak mendapatkan memory akan apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, dan semua memorynya nampak lusuh dan tidak berarti untuk dibanggakan.
Ketika ia sampai dipintu gerbang tambang emas tersebut, bertanyalah ia dalam hati, "What have I done for almost twenty-two years of my life?"
Dengan tetap mencoba mengingat kehidupan dewasa awalnya, ia tetap berjalan dengan masih mencoba menikmati barisan semut yang menghadangnya. Semakin keras ia berpikir, ia semakin sadar bahwa belum ada hal yang dapat dibanggakan yang telah dilakukannya. Lalu ia berpikir, "Well, everything happens for a reason. So there isn't a strong reason for me to did something that I could possibly proud of". Dan tidak membutuhkan waktu lama, pikirannya teralih dengan perputaran dua jarum yang ada ditangannya.
Lalu sampailah ia pada sebuah bangunan tua berlantai 3, kegiatannya dalam bangunan itu pun membuatnya melupakan pertanyaannya.
Ketika matahari telah mencapai singgasana puncaknya, pergilah ia untuk mencari sesuap nasi dan seonggok berlian. Pemuda itu pun berlari dalam sepinya lalu lintas ibukota. Ketika ia melihat sebuah tempat yang berisi ribuan kendaraaan besar, bertanyalah ia dalam hati "What have I done for almost twenty-two years of my life?". Dengan menerobos rombongan yang mengganggunya, ia pun melihat kebelakang, "There's lots of things happened to me for the past two years". Namun kali ini, sang pemuda mampu mengingat kejadian tahun lalu. Sambil berjalan lambat, Ia pun mengucap syukur pada Sang Kuasa atas pelajaran yang ia dapat sebelum umurnya menjadi 21 tahun. Dengan segenap keteguhan hati dan fokus yang berlebihan, berpikirlah dia akan hidupnya selama dua tahun belakangan.
Pemuda ini pun mengingat akan sebuah perkataan akan seorang teman baiknya ketika umurnya masih belia,
Pemuda : "Well, what it's feels like to be twenties?"
A Good Friend : "Hmm, let me tell you something. Your twenties are ages where you are more concern about life, your life. It's also a time where you feel more responsible for everything you've done, and you will do. And as an added bonus, you'll become wiser along the way."
Lalu ia pun ingat akan pikirannya ketika itu, 'Will I be that kind of person?" dan ia pun mencoba untuk berpikir sedikit maju dari memory lamanya itu dan membuat sebuah pembenaran, "Hell yeah, i feel more concern about my life right now. Where to go to work, what will I do after I graduate, and other similar stuff. I also think that I getting more responsible of (tiny) parts of my life. And as I growing wiser? Nah, IDTS!"
Sekali lagi ia pun berpikir, "There's lots of things happened to me for the past two years". Semakin ia menyadari akan pernyataan ini, Ia pun semakin dekat dengan tambang emas tempat ia mengadu nasib. Disepanjang sisa jalannya, berpikirlah ia akan, "Everthing happened for a reason" lalu, yakinlah ia bahwa ia telah menjadi (sangat sedikit) lebih dewasa dari ketika ia masih belia. Sesampainya ia ditambang emasnya, Ia pun berhenti sejenak untuk berpikir, "There's lots of things happened to me for the past two years" namun kali ini, Ia tidak mendapatkan memory akan apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, dan semua memorynya nampak lusuh dan tidak berarti untuk dibanggakan.
Ketika ia sampai dipintu gerbang tambang emas tersebut, bertanyalah ia dalam hati, "What have I done for almost twenty-two years of my life?"



0 comments:
Post a Comment